Renungan Pagi 11 Juni 2023

Sukacita Kebersamaan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Orang Lain


"Sebab itulah kami menjadi terhibur. Dan selain penghiburan yang kami peroleh itu, kami lebih lagi bersukacita oleh karena sukacita Titus, sebab kamu semua menyegarkan hatinya” (2 Korintus 7: 13).

"Diatas dan lebih tinggi dari kesenangan pribadi saya, saya sangat bersukacita atas sukacita Titus." Moffatt.    Kehangatan persahabatan sejati, kasih yang mengikat hati ke hati, adalah sebuah rasa pendahuluan dari sukacita surgawi. —Hidup yang Terbaik, hlm. 339.   Setiap jiwa dikelilingi oleh suasananya sendiri, —suasana yang mungkin penuh dengan kekuatan iman, keberanian, dan pengharapan yang menghidupkan, serta harumnya wangi kasih. Atau mungkin suasana itu terasa berat dan dingin dengan kesuraman ketidakpuasan dan keegoisan, atau beracun dengan noda mematikan dari dosa yang disayangi.   Oleh atmosfer yang mengelilingi kita, setiap orang yang berhubungan dengan kita secara sadar atau tidak sadar terpengaruh.   Kehidupan Kristus adalah sebuah pengaruh yang terus meluas dan tanpa batas, sebuah pengaruh yang mengikat Dia kepada Allah dan kepada seluruh keluarga manusia.    Melalui Kristus, Allah telah menanamkan dalam diri manusia sebuah pengaruh yang membuat manusia tidak mungkin hidup untuk dirinya sendiri. Secara individu kita terhubung dengan sesama kita, bagian dari keutuhan agung milik Allah, dan kita berdiri di bawah kewajiban timbal-balik.    Tidak ada seorang pun yang dapat terlepas dari sesamanya; karena kesejahteraan setiap orang memengaruhi orang lain. Adalah tujuan Allah agar setiap orang merasa dirinya perlu bagi kesejahteraan orang lain, dan berusaha untuk memajukan kebahagiaan mereka. —Seri Membina, jld. 5, hlm. 258.

Posting Komentar

0 Komentar